
ilustrasi
HALTENG — Penelitian Nexus3 Foundation bersama Universitas Tadulako, Sulawesi Tengah, menemukan pencemaran logam berat di perairan Teluk Weda, Halmahera Tengah. Sejumlah sampel ikan yang diteliti terbukti mengandung merkuri dan arsenik.
Hasil pemeriksaan darah warga menunjukkan 47 persen mengandung merkuri, dan 32 persen memiliki kadar arsenik melebihi ambang batas aman. Temuan ini disampaikan dalam konferensi pers oleh peneliti Nexus3, Annisa Maharani, di Jakarta, Senin (26/5).
Menanggapi hal itu, Pemerintah Provinsi Maluku Utara berencana menghentikan sementara aktivitas nelayan di titik-titik yang diduga tercemar.
“Kalau di titik tertentu dipastikan ikannya terkontaminasi, maka aktivitas nelayan di area itu akan kami hentikan sementara. Tapi tentu kami juga pikirkan solusi alternatif untuk para nelayan,” ujar Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Maluku Utara, Fauji Momole, Kamis (29/5).
Fauji menegaskan, kebijakan ini hanya berlaku untuk nelayan, bukan untuk aktivitas tambang. “Kita khawatir, hasil tangkapan nelayan yang tercemar bisa sampai ke pasar dan dikonsumsi masyarakat,” lanjutnya.
Penutupan ini, menurut Fauji, adalah langkah pencegahan agar ikan yang mengandung logam berat tidak dikonsumsi masyarakat. “Dampaknya bisa sangat luas bagi kesehatan masyarakat,” tandasnya. (Fikri)


More Stories
Ribuan Siswa Madrasah di Halsel Ikut Cetak Rekor MURI, Kasi Pendis Kemenag Beri Apresiasi
Prodi Pendidikan Geografi FKIP Unkhair Buka Penerimaan Mahasiswa Baru 2026
Asadul Boyratan Menang Telak! Resmi Pimpin Taekwondo Maluku Utara