NEWSGAPI

Gerbang Informasi Masa Kini

Potret Politik Dinasti Malut di Pilkada 2024, PKS: Tidak Menarik dan Sudah Lewat Riwayatnya

ilustrasi kursi kekuasaan

NEWSGAPI.COM — Potret politik dinasti mungkin sudah tidak asing lagi. Pasalnya, sajian dinasti ini seiring dengan momentum pemilihan yang memaksa kita seolah menyaksikan serial drama kerajaan dalam balutan demokrasi.

Belum lagi, tampilan politik dinasti dengan gemerlap kampanye dan slogan-slogan manis yang tersembunyi, namun nyatanya sistem kekuasaan yang diwariskan dari satu anggota keluarga ke anggota keluarga lainnya.

Menanggapi fenomena politik dinasti di republik ini, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bahkan pernah menyebut riwayat politik dinasti dengan sendirinya akan segera pudar dan menghilang dalam sistem demokrasi.

“Dinasti politik ini akan habis riwayatnya, ya, perubahan ini akan menerkam semua hal-hal yang berbau predator,” kata Aboe Bakar Alhabsyi Sekretaris Jenderal PKS dikutip dari Antara.

Petinggi PKS itu bahkan mengatakan, saat ini publik sudah cukup cerdas dalam menentukan mana yang terbaik.

“Tidak menarik, sudah lewat riwayatnya. Dinasti politik akan pudar, waktu gelombang itu akan datang, dan gelombang kemenangan bersama perubahan,” ucapnya.

Meski begitu, Pilkada serentak 2024 di wilayah Maluku Utara masih menjadi panggung regenerasi dari sejumlah keluarga politik di wilayah tersebut. Selain dua poros dinasti yang selama ini mewarnai Pilgub Maluku Utara. Kandidat dari dinasti politik juga meramaikan kontestasi di Pilbup Halmahera Selatan.

Pemilihan Bupati Halmahera Selatan 2024 bakal berjalan dinamis. Pemilihan yang akan berlangsung 27 November itu diwarnai politik dinasti.

PKS bersama Nasdem dan Hanura mengusung Hasan Ali Bassam Kasuba berpasangan dengan Helmi Umar Muchsin. Bassam Kasuba adalah petahana akan melawan kakaknya, Bahrain Kasuba. Bahrain yang merupakan bupati peripde 2016-2021 itu berpasangan dengan Umar Hi Soleman, di mana keduanya diusung Partai Gerindra dan Golkar.

Tidak berlebihan jika akhirnya pemilihan bupati Halmahera Selatan mendapat sebutan sebagai perang saudara dalam lingkaran dinasti. Sebab, pertarungan kakak beradik itu bersama dua pasangan calon bupati lainnya akan memperebutkan 180.301 suara pemilih.

Selain duo Kasuba, pemilihan bupati Halmahera Selatan diikuti empat pasangan calon. Pasangan lain adalah Rusihan Djafar dan Mohtar Sumaila. Keduanya diusung Perindo, PAN, PSI, dan PDIP, sedangkan pasangan Jasri Usman dan Muhlis Djafaar diusung PKB, Partai Demokrat, dan Garuda.

Sementara koalisi partai pengusung pasangan Bassam-Helmi mempunyai sembilan kursi di DPRD, Bahrain-Umar enam kursi, pengusung Rusihan-Mohtar tujuh kursi, dan Jasri-Muhlis mempunyai tujuh kursi parlemen.

Sementara di Pilgub Maluku Utara, ada pertarungan Dua Klan Dinasti Politik yang meramaikan pertarungan politik. Kedua klan dinasti tersebut adalah klan Mus dan klan Kasuba.

Klan Mus menguasai dua daerah yakni Kepulauan Sula dan Pulau Taliabu dari Partai Golkar, dan klan Kasuba yang punya basis kuat di Kabupaten Halmahera Selatan melalui PKS.

Mus merupakan nama belakang untuk setiap keturunan Muhammad Taher Mus, yang merupakan ayah dari mantan Bupati Kepulauan Sula 10 tahun Ahmad Hidayat Mus, Bupati Pulau Taliabu 10 tahun Aliong Mus dan Bupati Kepulauan Sula saat ini Fifian Adeningsi Mus.

Kemudian nama belakang Kasuba merujuk pada mantan Gubernur Maluku Utara 10 tahun Abdul Gani Kasuba dan mantan Bupati Halmahera Selatan 10 tahun Muhammad Kasuba yang saat ini menjadi calon gubernur mengantikan sang kakak karna terjaring operasi tangkap tangan KPK.

Nama ini juga melekat pada mantan Bupati Halmahera 5 tahun Bahrain Kasuba dan bupati saat ini Hasan Ali Bassam Kasuba yang merupakan anak sulung Muhammad Kasuba. Keturunan dari Kasuba ini menguasai Halmahera Selatan 20 tahun dan 10 tahun di Provinsi Maluku Utara.

Kedua klan dinasti politik ini masing-masing mengirimkan calonnya untuk bertarung memperebutkan kursi gubernur Maluku Utara, Aliong Mus dan Muhammad Kasuba.

Aliong Mus sendiri berpasangan dengan Sahril Tahir yang merupakan politikus Partai Gerindra. Keduanya telah mendaftarkan diri ke KPU sebagai pasangan calon gubernur dan wakil gubernur diusung oleh Partai Golkar, Gerindra, Perindo, PBB, dan Garuda.

Sementara Muhammad Kasuba yang mendapatkan rekomendasi dari PKS dan Hanura berpasangan dengan Basri Salama. Keduanya juga sudah mendaftarkan diri ke KPU sebagai pasangan calon gubernur dan wakil gubernur.

Pertarungan klan Mus dan klan Kasuba tersebut bersama dengan dua pasangan calon gubernur lainnya, mereka akan memperebutkan 953.978 suara pemilih.

Pasangan lainnya adalah Benny Laos-Sarbin Sehe yang diusung Partai Nasdem, PPP, Demokrat, PKB, PAN, Gelora, PSI, serta Partai Buruh dan Pasangan Husain Alting Sjah-Asrul Rasyid Ichsan dari PDIP. (fik)

Jangan Jadi Plagiator